Tuesday, April 7, 2015

Seni Ukir Pulau Madura



Membuktikan bahwa pada dasarnya masyarakat Madura perasaan­nya halus, penuh rasa seni. Ukiran-ukiran itu bervariasi baik bentuk, ukuran, motif, warna, bahkan gayanya, namun ada saja cirri khas yang menunjukkannya sebagai khas Madura. jika melihat perahu yang bertebaran di laut, kita segera dapat membedakan mana perahu Ma­dura dan mana yang bukan, bahkan asalnya secara lokal seperti Pa­mekasan, Sampang, Bangkalan, Sumenep, dan Sapodi, teru­tama karena adanya ciri ukiran atau hiasan pada perahu itu.

Ukiran Madura antara lain dapat dikenali dari ciri-ciri penampil­annya yang lugas/sederhana, kasar/gagah, menonjol/merangsang, ge­muk/besar. Warna-warna yang banyak dipakai adalah merah (merah tua), hitam, putih, kuning (dan brons), hijau, biru.

Dapat dikatakan ukiran Madura, bersifat tradisional sebab penga­lihan ketrampilan ini secara turun-temurun dan masih selalu memper­tahankan teknik, bentuk maupun motif yang mereka terima secara turun-temurun pula.

Sejak kapan masyarakat Madura mulai mengukir?, tidak ada yang tahu dengan pasti. Sekurang-kurangnya sejak masa kejayaan kerajaan Singasari-Majapahit di Jawa Timur (sejak ± abad ke-I3) sudah ada ukiran-ukiran relief gaya klasik yang indah sekali dan mendapat pe­ngaruh budaya Hindu/Buddha sangat kuat. Pengaruh luar seperti Cina, Timur Tengah, Eropa, bertubi-tubi merasuk seni ukir Madura. Semua pengaruh itu jelas meninggalkan jejaknya yang diterima oleh seniman Madura secara selektif tanpa mengancam kelestarian seni ukir Madura sendiri.

Hasilnya yang kita lihat sekarang adalah motif yang kaya akan variasi dicerna dalam gaya, watak dan keperluan Madura sehingga bobot seninya justru bertambah.


No comments:

Post a Comment

seo | webmaster